Tanpa Sadar, Kita Sering Terjebak Strategi Marketing Seperti Ini



Ada banyak cara untuk memikat perhatian para konsumen, salah satunya adalah strategi promosi. Kita tahu bahwa ada banyak orang yang memiliki uang, dan kebanyakan dari mereka akan sibuk memikirkan cara menghabiskannya daripada repot-repot berfikir tabungan kedepanya, sekalipun pengen berhemat tapi malah makin pengen belanja.

Apalagi dengan strategi harga promosi yang isinya menarik banget dan diam-diam menguras dompet (sungguh tega), memang orang marketing itu kreatif dah buat memasarkan sesuatu. Lalu seperti apa strategi harga promosi tersebut yang bisa mengoda kita untuk membelinya?



5. Penunjuk waktu dalam harga

Kamu pasti sudah sering melihat taktik harga promosi dengan menunjukkan penanda waktu tertentu baik harian, mingguan, maupun bulanan. Menggunakan penanda waktu dalam harga produk atau jasa membuat harga produk tersebut tampak menjadi lebih murah. Sebagai calon pembeli pun rasanya tidak akan terlalu berat dan cenderung untuk membelinya.


  • Misalnya ada iklan kredit motor yang berbunyi.  “Hanya dengan Rp 20 ribu / hari Anda dapat membawa pulang motor keren ini
  • Atau iklan yang sering sliweran di tipi, “Hanya Rp 4 juta per bulannya, Anda bisa mendapatkan apartemen eksklusif. Senin harga naik!


4. Diskon di Akhir Bulan

Kebanyakan orang saat di akhir bulan, kondisi keuangan mereka tidak seprima diawal bulan. Dalam hal ini, keuangan sudah minim karena pengeluaran bulanan (makan, minum, main, dll.). 

Alhasil, ketika melihat diskon, apalagi yang ditawarkan dengan cara yang menarik di saat yang tepat. Tanpa pikir panjang kita akan langsung membelinya. Kita tentu tidak akan mau melewatkan ‘kesempatan’ tersebut begitu saja, mengingat diskon akhir bulan = penyelamat.


3. Metode Coret Harga

strategi promosi
Yang satu ini pasti sering ketemu, apalagi kalau di ramahyana, hehe. Umumnya, sang produsen akan menyajikan harga yang lebih mahal kemudian mencoretnya, kasarnya sih naikin dulu baru turunin dikit. 

Harga yang lebih murah akan dicantumkan pada bagian bawah dari harga yang telah dicoret tersebut. Hal ini membuat produk seolah telah didiskon besar-besaran dalam jangka waktu yang tidak ditentukan sehingga konsumen terdorong untuk cepat-cepat membelinya.


2. Harga Tidak Bulat atau Mengurangi Jumlah Angka

strategi promosi

Promosi ini terbukti berhasil dan juga didikung dengan penelitian bahwa harga produk yang tidak genap justru akan terlihat rasional dan masuk akal dibandingkan dengan harga yang bulat. Selain itu, orang juga tertarik dengan jumlah angka yang sedikit. 

Misalnya nih ada sebuah produk dengan harga jual Rp 100.000,00. Angka ini dapat dikurangi seperti ini misalnya IDR 100 Ribu atau 100K.

Untuk contoh kasus harga tidak bulat seperti ini:
“Jaket 3 Seconds Only IDR 49.900, Buruan order, gan” coba deh bandingin dengan “Jual Jaket 3 Seconds IDR 50.000, Yuk di Order” Pasti lebih menarik adalah iklan yang pertama.

Tanpa sadar, orang akan berfikir bahwa harga jaket yang pertama hanya 49 ribuan. Karena otak manusia cenderung melihat angka depanya saja, padahal harga jaketnya ya sama aja senilai 50 ribu rupiah. 

1. Font Harga Sekecil Mungkin

Cara ini sudah sering diterapkan apalagi di dunia retail. Jika kamu perhatikan, harga yang tertulis di label sebuah produk pasti dibuat kecil. Tujuannya membuat pembeli melihat jelas aspek manfaat produk ketimbang memperhatikan harga yang ditulis kecil.

Hal ini disebabkan oleh jangkauan mata yang sempit ketika memandang harga dibandingkan dengan luas dan besarnya produk yang akan didapatkan.

Apakah kamu menyadari, bbetapa seringnya kamu tergoda dengan taktik-taktik marketing diatas?




Posting Komentar

0 Komentar